Tuesday, February 24, 2015

Pondok Remaja Salib Putih

Salatiga – Agrowisata Salib Putih merupakan salah satu tempat wisata yang terletak di kaki Gunung Merbabu sekitar 4 Km, atau sekitar 15 menit dari kota Salatiga menuju obyek wisata Kopeng. Agro Wisata Salib Putih Salatiga ini biasa digunakan untuk rekoleksi/retreat, pelatihan, outbond, maupun berbagai acara seminar.

Kawasan ini meliputi perkebunan cengkeh, kopi, kapuk randu diintegrasikan dengan peternakan sapi perah. Di kompleks ini juga terdapat beberapa kegiatan sosial yaitu Panti Asuhan, Panti Wredha dan Panti Karya. Untuk menunjang wisata terdapat pula Pondok Remaja Salib Putih serta Camping Ground Salib Putih.

Nama Salib Putih merupakan nama desa yang berada di sekitar tempat Wisata Agro yang terkenal karena kesejukan, keasrian dan pemandangan yang indah. Dari sini, pengunjung juga bisa menyaksikan pemandangan Rawa Pening dan Kota Salatiga yang terlihat dengan jelas menghampar di kejauhan yang tentunya akan menyegarkan dan memanjakan indera penglihatan para wisatawan. Agrowisata Salib Putih Salatiga menyediakan sekitar 50 kamar penginapan dengan desain modern untuk memanjakan para pengunjung dan supaya para wisatawan tetap merasa nyaman.

Banjir Kanal Barat

Saat libur akhir pekan di Semarang, coba susuri 'Banjir Kanal Barat Semarang'. Kawasan yang fungsi utamanya adalah penanggulangan banjir ini kini sedang digandrungi oleh masyarakat Semarang dan sekitarnya untuk menghabiskan waktu berekreasi.

Sungai Banjir Kanal Barat merupakan salah satu sungai terpanjang yang membelah kota Semarang yang digunakan sebagai pengendali banjir di Kota Lumpia.

Kawasan banjir kanal barat yang dibangun sepanjang 9,2 kilo meter ini, anda akan disuguhkan keindahan alam, suasana yang tenang dan udara yang sejuk di tengah penat kota Semarang disertai hembusan angin sepoi-sepoi untuk memanjakan siapapun yang datang.

Sungai yang dulu dipenuhi rumput tinggi nan lebat serta dihuni banyak ular ini sekarang telah menjelma menjadi tempat favorite bagi warga kota semarang untuk menikmati sore maupun pada malam hari. Suasana malam yang berbeda menyuguhkan keindahan jembatan penghubung Lemah Gempal disertai lampu yang mentereng disepanjang jalan semakin menggambarkan keindahan kota Semarang .

Para wisatawan juga bisa bersantai untuk sekedar bercengkrama dengan teman-teman dan bisa menggunakan beberapa fasilitas pendukung  yang sudah tersedia , seperti jogging track, plaza di Kokrosono, tribune, perahu penyeberangan, dan fasilitas penunjang lainnya.

Gereja Hati Kudus Yesus, Tanah Mas

Munculnya gagasan untuk membangun sebuah kompleks sarana ibadah berupa gereja Katolik ditengah perumahan Tanah Mas di Semarang adalah untuk mengantisipasi perkembangan jumlah umat Katolik di paroki tersebut. Sedangkan alasan perlunya penyediaan gereja baru menggantikan gereja yang sudah ada sebelumnya adalah karena pertimbangan kapasitas gereja lama yang sudah tidak memenuhi syarat lagi dan bangunannya mulai tidak memadai akibat terkena banjir. Sesuai dengan ajaran yang dianut dalam agama Katolik yakni teladan Yesus Kristus, maka konsep perancangannya mengacu pada perjalanan terbentuknya gereja dan penyebarannya dengan mengambil simbol salib Kristus.

PT PELNI

PT PELNI

Terletak di Jalan Mpu Tantular 27 dibangun pada awal abad XX. Semula bangunan ini ditempati oleh NV BOUWMAATSCHAPIJ. yaitu perusahaan yang bergerak di bidang Ekpedisi Muatan Kapal Laut.

Gedung ini berada di tepi sungai, karena pada waktu itu sungai tersebut dapat dilayari kapal dengan ukuran yang besar, sehingga kapal dapat merapat dan melakukan bongkar muat didepan kantor.

Makam Thio Sing Liang

Makam Thio Sing Liang di Jalan Sriwijaya, Semarang

Sebelum pertigaan Jalan Sriwijaya dan Jalan Tegalsari, disebelah kanan jalan tentu kita selalu melewati sebuah bangunan model China, yang dipenuhi para pedagang kaki lima, bangunan kuno tersebut merupakan makam Thio Sing Liang seorang kaya raya yg meninggal pd thn 1940. Di dalam bangunan tersebut terdapat 4 buah makam yaitu makam Thio Sing Ling dan istri ke 2 di dalam gedung utama dan istri pertama dan kerabatnya di luar gedung di belakang.

Monday, February 23, 2015

Es Pallubutung

Pallu Butung adalah makanan khas Sulawesi Selatan, makanan ini sering dijadikan hidangan untuk berbuka puasa di saat bulan Ramadan. Pallu Butung ini hampir mirip dengan Pisang Ijo.
Pallu Butung terbuat dari campuran tepung beras, santan, gula pasir, daun pandan, vanili dan garam yang kemudian sampai matang dan kental. lalu dimasukkan potongan-potongan pisang raja yang juga sudah masak lalu diaduk. Pallu Butung dapat dihidangkan hangat-hangat, juga bisa dihidangkan dingin dengan menambah parutan es di atasnya. Pallu Butung juga bisa ditambahkan sedikit sirup untuk menambah warna dan rasa manis.

Gedung MARBA

Gedung MARBA

Gedung Marba yang terletak di salah satu sudut kota lama, seberang Taman Srigunting, tepatnya Jalan Let. Jend. Suprapto No 33 Semarang ini dibangun pada pertengahan abad XIX, merupakan bangunan 2 lantai dengan tebal dinding ± 20 cm. Bangunan ini berdiri sekitar pertengahan abad XIX. Pembangunan ini diprakarsai oleh MARTA BADJUNET, seorang warga negara Yaman, merupakan seorang saudagar kaya pada jaman itu. Untuk mengenang jasanya bangunan itu dinamai singkatan namanya MARBA. Gedung ini awalnya digunakan sebagai kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Selain kantor tersebut digunakan pula untuk toko yang modern dan satu-satunya pada waktu itu , DE ZEIKEL. Setelah pensiun, perusahaan pelayarannya dipegang oleh anaknya MR MARZUKI BAWAZIR. Agak disayangkan gedung kuno yang eksotis ini saat ini tidak ada aktivitasnya dan digunakan untuk gudang.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk (kadang-kadang dieja Gereja Blendug dan seringkali dilafazkan sebagai mBlendhug) adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di kota itu pada 1753, dengan bentuk heksagonal (persegi delapan). Gereja ini sesungguhnya bernama Gereja GPIB Immanuel, di Jl. Letjend. Suprapto 32. Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah. Gereja ini hingga sekarang masih dipergunakan setiap hari Minggu. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda.

Durian Pancake

Pancake (panekuk) Durian

Panekuk durian atau pancake durian adalah makanan ringan berupa puree daging durian dan vla atau krim kocok yang dibalut dengan kulit crepes atau dadar gulung. Panganan ini pertama kali dipelopori oleh pedagang-pedagang kue rumahan di Kota Medan, dan lambat laun tersebar di kota-kota lain di Indonesia, seperti Jambi, Semarang, Jakarta, dan lain-lain.

Bubur Kacang Hijau

Bubur kacang hijau


Bubur kacang hijau adalah makanan khas Nusantara yang terbuat dari kacang hijau yang dimasak dengan air dan gula aren bersama seikat daun pandan[1]. Bahan-bahan tersebut dimasak sampai mendidih sampai kacang hijau menjadi lunak. Lalu disajikan dengan tambahan santan. Dalam versi yang lain, beberapa orang menambahkan tepung tapioka ke dalam bubur. Makanan yang satu ini dapat dimakan saat masih hangat maupun dingin dengan cara memasukkan es batu ke dalamnya.

Lawang Sewu #2

Lawang Sewu


Sejarah Lawang Sewu

Bangunan Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama lain Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat NIS). Awalnya kegiatan administrasi perkantoran dilakukan di Stasiun Semarang Gudang (Samarang NIS), namun dengan berkembangnya jalur jaringan kereta yang sangat pesat, mengakibatkan bertambahnya personil teknis dan tenaga administrasi yang tidak sedikit seiring berkembangnya administrasi perkantoran.
Pada akibatnya kantor NIS di stasiun Samarang NIS tidak lagi memadai. Berbagai solusi dilakukan NIS antara lain menyewa beberapa bangunan milik perseorangan sebagai solusi sementara yang justru menambah tidak efisien. Apalagi letak stasiun Samarang NIS berada di dekat rawa sehingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting. Maka, diusulkanlah alternatif lain: membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal).
NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangani di Amsterdam tahun 1903.

Lawang Sewu #1

Lawang Sewu

Lawang Sewu (bahasa Indonesia: seribu pintu) adalah gedung gedung bersejarah di Indonesia yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Gedung ini, dahulu yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, meskipun kenyataannya, jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero

About me, about this blog

Halo

Aku Ottypege. Lahir besar di Semarang, Indonesia. Sekarang lagi suka fotografi. Khususnya pake ponsel. Jadi sebagian besar foto yang diupload di sini, diambil dengan Lenovo A859, diedit sedikit pake Snapseed. Rata-rata foto di sini juga sudah diupload di instagram dengan akun @ottypege.
Blog ini memuat foto-foto yang pernah saya jepret dan dipublish di insta. Fotonya juga masih random.Tapi infonya jauh lebih banyak daripada yang ada di instagram. Kalo di instagram kan kecil-kecil tuh tulisannya, kalo kebanyakan, orang males bacanya.
Makanya dimuat aja di blog, dengan desain lebih bersahabat buat mata, harapannya orang jadi lebih ngerti soal apa yang saya posting.
Postingan saya seputaran tempat-tempat di sekitar Semarang, dan juga makanan. I love food. They never betray you :)
Juga kalo ada yang mau berkunjung ke Semarang, ga ada salahnya ngecek blog ini buat cari referensi tempat yg asik buat foto2 atau sekedar cari makanan enak.